masukkan script iklan disini
PADANG / AGAM, Penakita.info –
Di mata banyak kalangan, dunia politik kerap dianggap hanya sebagai panggung untuk mengejar kekuasaan dan kedudukan. Pandangan ini sama sekali tidak dianut oleh Ulyadi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sumatera Barat. Sebagai sosok yang sekaligus berperan sebagai akademisi dan politisi, ia memiliki makna tersendiri terhadap politik: baginya, kegiatan bernegara dan berorganisasi adalah sarana utama untuk menegakkan keadilan serta memperjuangkan hak asasi setiap manusia, tanpa memandang latar belakang apa pun.
Ulyadi memang dikenal luas sebagai narasumber yang berwawasan mendalam dan memiliki pandangan yang tajam. Namun di luar ruang diskusi dan lingkungan kampus, namanya lebih sering disebut dengan penuh penghargaan oleh lapisan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
Sebagian besar waktu dan tenaga di luar tugas utamanya ia curahkan untuk pelayanan kemanusiaan. Ia tidak menunggu laporan resmi atau permohonan tertulis; begitu mendengar kabar ada warga yang tertimpa musibah atau kesulitan hidup, ia segera turun langsung ke lokasi, mendampingi, dan memfasilitasi kebutuhan yang paling mendesak.
Salah satu bukti nyata kepeduliannya terlihat baru-baru ini, ketika perhatiannya tertuju pada kondisi Erianto — yang juga dikenal sebagai Anto — warga Jorong Patangahan, Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Setelah mendengar kisah berat yang dialami warga tersebut, Ulyadi tidak sejenak pun ragu untuk turun tangan secara langsung. Baginya, jarak tempuh maupun kesibukan padat bukan alasan untuk menunda pertolongan; karena dalam prinsip kemanusiaan, setiap nyawa dan hak warga memiliki nilai yang sama dan wajib diperjuangkan.
Upaya pelayanan sosial seperti ini menjadi fokus utama dan perhatian mendalam bagi Ulyadi, setara besarnya dengan dedikasinya di dunia pendidikan. Ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan yang dimilikinya serta amanah jabatan yang dipercayakan rakyat tidak akan berharga apa pun jika tidak menghasilkan manfaat nyata bagi mereka yang tertinggal — kelompok yang kerap kali tidak memiliki akses untuk menyuarakan nasibnya sendiri.
Bantuan yang diberikan bukan sekadar pemberian sesaat. Pendekatannya selalu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling hakiki: mendengarkan keluh kesah dengan sabar, memahami akar kesulitan yang dihadapi, dan hadir berdiri sejajar sebagai saudara, bukan sekadar sosok yang memberikan bantuan semata.
Ketulusan dan konsistensi yang dijaganya selama bertahun-tahun inilah yang akhirnya melahirkan sebutan istimewa dari masyarakat luas: “Pejuang Dhuafa”.
Bagi Ulyadi sendiri, gelar yang lahir dari hati rakyat ini jauh lebih berharga dibandingkan segala jabatan resmi atau penghargaan kenegaraan. Ia terus berupaya membuktikan ciri pemimpin sejati: terlihat dari seberapa dekat ia berada di sisi kaum yang lemah, seberapa gigih ia berjuang agar hak-hak dasar mereka terpenuhi, dan seberapa tulus hatinya melayani tanpa pamrih atau balasan.
Melalui langkah nyata seperti yang dilakukan di wilayah Tilatang Kamang, Ulyadi senantiasa menyampaikan pesan mendalam: politik yang benar hakikatnya adalah pengabdian, sedangkan pendidikan sejati tidak hanya mencetak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi juga melahirkan pribadi yang berhati lembut dan peka terhadap penderitaan sesama makhluk.
Berbagai kelompok organisasi seperti Kim Matador, LAMI, TIKAM, Peduli Keadilan, KPK Nusantara, serta kelompok sejenis lainnya turut menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam. Mereka menilai langkah yang diambil tokoh dan figur publik ini sangat berarti karena menjawab beragam persoalan sosial dan kemanusiaan tidak hanya lewat kata-kata, melainkan melalui tindakan dan realisasi yang nyata di lapangan.
(YamanLbs)
