• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    ‎Menembus Batas, Melawan Arus: Perjalanan Masri SP, Wartawan “Pemburu Kasus” dari Timur Aceh

    Senin, 10 Agustus 2026, Agustus 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T05:40:29Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Muhammad Rizwan, SH

    Penakita.info.com  - Aceh Timur/
    ‎” Ketika pena bergerak, kebenaran harus berdiri tegak, dan suara yang terbungkam harus didengar “

    ‎Sekilas Profil

    ‎Nama Lengkap: Masri, SP

    ‎Tempat, Tanggal Lahir: Gampong Lueng Sa, 07 Juli 1977

    ‎Pendidikan: S1 Pertanian, Universitas Samudera Langsa; Lembaga Pendidikan Wartawan Islam (LPWI) Grobogan–Semarang (1997)

    ‎Keluarga: Istri (Susi Susanti Dachi) dan 5 anak (2 putri, 3 putra)

    ‎Jabatan Utama: Kepala Wilayah Aceh Media Suara Indonesia (2012–sekarang)

    ‎Organisasi: Sekretaris Umum DPP Persatuan Wartawan Online (PWO) Aceh (2021–2026)

    ‎Aceh – Di sela dinamika informasi digital yang bergerak dalam hitungan detik, sosok Masri, SP memilih berdiri di jalur terjal. Di kalangan rekan sejawat dan masyarakat Aceh Timur, ia dikenal sebagai “wartawan pemburu kasus”.

    ‎Deretan investigasinya konsisten menyasar persoalan krusial yang kerap dihindari sebagian orang: mulai dari praktik pungutan liar (pungli), mafia agraria, korupsi, penyelewengan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk petani, hingga berbagai kejahatan publik lainnya.

    ‎Lahir dan besar di Gampong Lueng Sa, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Samudera Langsa ini justru menemukan panggilannya di dunia jurnalistik.

    ‎Bagi Masri, profesi wartawan bukan sekadar rutinitas peliputan, melainkan sebuah amanah moral untuk membela mereka yang terpinggirkan.

    ‎Dari Mesin Ketik ke Era Digital

    ‎Jejak langkah Masri di dunia pers dibentuk oleh tempaan zaman. Jauh sebelum gawai pintar mendominasi ruang redaksi, ia telah menapaki karier jurnalistiknya dari bawah.

    ‎Pada 1997, ia menamatkan pendidikan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam (LPWI) Grobogan, Semarang. Setahun berselang, namanya mulai menghiasi kolom berita harian Realitas Pers Semarang, berlanjut sebagai kolumnis di Majalah Reformasi, dan bergabung sebagai reporter Harian Sore Medan pada tahun 2000. Sejak 2012, ia mendedikasikan diri di Media Suara Indonesia sebagai Kepala Wilayah Aceh.

    ‎” Menulis sekarang terasa lebih mudah karena dukungan teknologi informasi. Kalau dulu harus pakai mesin ketik, kamera jadul, untuk konfirmasi saja harus lari ke Wartel, dan mengirim rilis berita harus lewat jasa pos atau faksimile,” kenang Masri.

    ‎Kendati teknologi telah memangkas jarak dan waktu, tantangan terbesar seorang jurnalis investigasi tetaplah sama: tekanan dari pemilik kepentingan besar. Dalam kerja-kerjanya, Masri kerap berhadapan langsung dengan risiko benturan, mulai dari oknum aparat hingga jejaring kekuasaan. Namun, prinsipnya tetap kokoh ia tidak pernah gentar.

    ‎Jurnalisme yang Menggerakkan

    ‎Lebih dari sekadar memburu kasus, Masri juga mengambil peran strategis sebagai inisiator penguatan kapasitas pers dan advokasi publik.

    ‎Pada tahun 2025, ia menggagas Focus Group Discussion (FGD) terkait keterbukaan informasi publik dan sinergi pers dengan pemerintah gampong dalam pengelolaan Dana Desa, yang melibatkan 153 wartawan di Aceh Timur. Langkah progresif ini berlanjut pada 2026 melalui gagasan program publikasi gampong di Aceh Utara.

    ‎Kepedulian sosialnya termanifestasi dalam berbagai aksi nyata:

    ‎Maulid Akbar 2025: Memprakarsai perayaan yang merangkul 22 organisasi pers sekaligus menggerakkan aksi Gema Shalawat sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina.

    ‎Aliansi Pers Pasca Bencana (Akhir 2025): Tampil sebagai inisiator sekaligus Ketua Aliansi Pers Kawal Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana tatkala banjir besar melanda Aceh, merangkul 163 wartawan dari 12 kabupaten/kota.

    ‎Aktivisme Sosial: Aktif di berbagai lembaga kemanusiaan seperti Persaudaraan Aceh Seurantoe (PAS), Lembaga Peduli Dhuafa Indonesia (LPDI), dan LSM Aceh Future yang fokus pada pendidikan santri dari keluarga prasejahtera.

    ‎Menjaga Marwah Profesi

    ‎Di tengah gelombang perubahan era digital, Masri tetap konsisten memegang teguh etika jurnalistik: akurat, berimbang, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik. Melalui baris-baris kalimatnya, ia membuktikan bahwa pers lokal memegang peranan vital sebagai pilar keempat demokrasi pengawas jalannya kekuasaan dan suara bagi mereka yang tak terdengar.

    *) M. Rizwan, Wartawan pena kita.info Aceh Timur.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini