masukkan script iklan disini
Agam, Penakita.info –
Kamis 25 Juni 2026 – Saat rombongan media berpapasan di wilayah Kecamatan Tilatang Kamang, pemandangan yang terlihat di lingkungan markas Polsek setempat bukanlah sekadar bangunan kantor yang berdiri tegak semata. Di sana, seluruh jajaran personel tampak bergerak serentak dalam satu irama, bergotong royong dengan semangat yang menyala. Tanpa menunggu perintah kaku, masing-masing memegang sapu, sekop, cangkul, maupun alat kebersihan lainnya, bergerak dari sudut halaman, selokan, hingga tempat tanaman. Kegiatan pembersihan menyeluruh ini bukan pekerjaan sesaat, melainkan sebuah kebiasaan mulia yang sudah dijadikan rutinitas tetap dan terjadwal.
Bagi pandangan umum, kegiatan gotong royong atau yang dikenal masyarakat sebagai Goro ini sering dianggap hal sederhana dan biasa saja. Namun bagi Polsek Tilatang Kamang dan seluruh anggotanya, maknanya jauh melampaui sekadar membersihkan debu atau merapikan halaman. Ini adalah fondasi awal pembentukan karakter dan budaya kerja.
Kapolsek Tilatang Kamang, AKP Saherman, S.H., yang turun langsung ikut bekerja di tengah jajarannya, menegaskan prinsip utama yang dipegang teguh:
“Ingin menata lingkungan yang luas, mulailah dari lingkungan yang paling dekat dan kecil. Ingin menata serta mendidik masyarakat agar tertib dan berbudaya, mulailah dari menata diri sendiri dan tempat kerja kita sendiri.”
Menurut AKP Saherman, kebersihan lingkungan kantor bukan sekadar soal keindahan pandangan atau kenyamanan fisik semata. Kebersihan adalah cermin langsung dari isi hati, kedisiplinan, serta integritas yang dipegang oleh setiap elemen di dalamnya.
“Jika tempat kerja yang menjadi markas tugas kita saja tidak mampu dijaga rapi dan bersih, bagaimana mungkin kita berani menegakkan ketertiban, keadilan, dan aturan hukum di tengah masyarakat luas? Hal itulah makna mendalam yang ingin kami tanamkan melalui setiap pertemuan kerja bakti ini,” tambahnya.
Dalam penjelasannya lebih lanjut, Kapolsek menegaskan bahwa kegiatan ini telah dijadikan rutinitas tetap, bukan sekadar kewajiban sesaat atau program seremonial belaka:
“Kami meyakini sepenuhnya bahwa semangat profesionalisme yang tinggi, kedisiplinan yang kuat, serta rasa tanggung jawab besar yang kami tuntut dalam setiap pelayanan kepada masyarakat, semuanya berakar dari hal‑hal kecil seperti ini. Menjaga kebersihan tempat kerja sama artinya menjaga kebersihan hati dan jernihnya pikiran. Lingkungan yang bersih, rapi, dan sehat pasti akan melahirkan jiwa petugas yang jernih, tenang, dan siap bekerja dengan penuh dedikasi.”
Ia juga menekankan nilai keteladanan sebagai inti dari tugas kepolisian:
“Sebelum kami berani meminta ketertiban, kebersihan, dan kepatuhan kepada seluruh warga masyarakat, kami harus terlebih dahulu mampu mencontohkannya di ‘rumah sendiri’, yaitu di lingkungan kantor kepolisian ini. Ini adalah wujud nyata kepedulian kami terhadap lingkungan, sekaligus sarana paling ampuh untuk mempererat persaudaraan dan kekompakan menjadi satu kesatuan tim yang utuh dan kuat.”
Suasana kegiatan berjalan sangat hidup, hangat, dan penuh nuansa kekeluargaan. Jauh dari kesan kaku atau hanya sekadar formalitas, terlihat jelas semangat saling bantu dan berbagi tugas di antara seluruh personel. Hal ini membuktikan bahwa di balik keseriusan seragam dan tugas berat melindungi keamanan, mereka tetap merupakan satu keluarga besar yang saling peduli dan menjaga.
Pemandangan ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang menyaksikannya: bahwa setiap perubahan besar dan kemajuan selalu dimulai dari langkah‑langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Kepedulian terhadap lingkungan bukanlah beban yang hanya dibebankan kepada petugas kebersihan atau instansi tertentu semata, melainkan tanggung jawab bersama setiap elemen masyarakat.
Bagi Polsek Tilatang Kamang, menjaga kebersihan lingkungan kerja adalah bukti nyata kesetiaan terhadap janji utama institusi: Melayani, Melindungi, dan Mengayomi — sebuah komitmen yang dimulai sejak dari tempat kita berpijak dan bekerja setiap hari.
Semangat sederhana namun bernilai tinggi ini patut dijadikan teladan luas, mengingatkan kembali bahwa lingkungan yang bersih adalah cermin budaya, dan budaya yang mulia selalu lahir dari kebiasaan‑kebiasaan baik yang dijalankan dengan ikhlas, disiplin, dan berkelanjutan.
(YamanLbs)
