Piru,PenaKita.Info-Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru kembali tunjukkan kreativitas dan semangat produktif melalui karya miniatur kapal berbahan kayu reklamasi atau umumnya dikenal dengan kayu bekas mebel atau furnitur. Kegiatan pembinaan kemandirian ini dilaksanakan pada Senin (23/2) sebagai bagian dari program pemberdayaan yang berkelanjutan di Lapas Piru.
Miniatur kapal tersebut dibuat dari kayu reklamasi yang sebelumnya tidak terpakai. Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemilahan dan pengolahan bahan, teknik pembentukan dan perakitan rangka, hingga tahap pengecatan dan finishing. Seluruh proses dikerjakan secara mandiri oleh Warga Binaan dengan pendampingan intensif petugas pembinaan, sehingga menghasilkan karya yang detail, rapi, dan memiliki nilai estetika tinggi.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Ode Mustafa, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga sarana pembentukan karakter.
“Melalui pembinaan kerajinan miniatur kapal ini, kami ingin membangun rasa percaya diri dan kedisiplinan Warga Binaan. Mereka belajar sabar dalam proses, teliti dalam pengerjaan, dan bertanggung jawab terhadap hasil karyanya. Ini menjadi bekal penting saat mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini telah membentuk kelompok kerja kerajinan tangan yang secara konsisten memproduksi miniatur kapal untuk dipasarkan. Produk tersebut kini telah dipasarkan melalui koperasi Lapas dan jaringan UMKM lokal, sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis pembinaan.
Kepala Lapas Piru, Hery Kusbandono, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan kemandirian dan pemberdayaan Warga Binaan.
“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Pembinaan kemandirian harus menghasilkan output nyata yang bernilai ekonomi dan membangun mental produktif Warga Binaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemilihan miniatur kapal juga merepresentasikan kearifan lokal Maluku sebagai daerah kepulauan dengan tradisi maritim yang kuat. Melalui karya tersebut, Warga Binaan tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya daerah.
Dengan semangat pembinaan yang berkelanjutan, Lapas Piru terus berupaya menghadirkan program yang tidak hanya membina, tetapi juga memberdayakan, sehingga Warga Binaan mampu kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang mandiri, terampil, dan produktif.
