• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Sopir Truk Patungan Rp200 Ribu, Jalan Pungguk Baru Abung Timur Tetap Jadi Kubangan Lumpur

    Sabtu, 16 Mei 2026, Mei 16, 2026 WIB Last Updated 2026-05-16T11:11:34Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    LAMPUNG UTARA , Penakita, info– Jalan Kabupaten di Desa Pungguk Baru, Abung Timur, Sabtu pagi 16 Mei 2026, terlihat seperti arena offroad.

    Lumpur merah menggenang sepanjang badan jalan. Di tengah kubangan, sebuah pick up menggerung keras. Roda berputar di tempat, tanah menyembur ke udara. Dari knalpotnya keluar kepulan asap hitam tebal, tanda mesin dipaksa bekerja di luar batas. Motor di belakangnya hanya bisa merayap pelan, pengendaranya menunduk takut selip.

    Yang bikin miris, kondisi ekstrem ini justru terjadi setelah para sopir truk patungan.

    "Itu iuran pak sopir-sopir truk. Masing-masing Rp200 ribu per mobil. Udah digusur pakai eksavator, bareng Kades Papan Rejo juga," kata seorang warga Pungguk Baru yang minta namanya dirahasiakan.

    Ia menunjuk ke arah jalan becek di depan rumahnya. Suaranya lelah, tapi ada ketawa getir di ujung kalimat.

    Digusur Swadaya Sopir, Hancur Kena Hujan

    Menurut warga, pengerukan yang dilakukan kemarin murni swadaya para sopir truk yang tiap hari lewat bawa singkong. Mereka kumpul uang, sewa alat, dan kerja bareng Kades Papan Rejo karena sudah nggak tahan lagi.

    Tapi hasilnya nggak sesuai harapan. Tanah dikeruk tanpa dipadatkan, tanpa saluran air. Begitu hujan turun semalam, seluruh badan jalan langsung berubah jadi bubur lumpur.

    "Kalau nunggu pemerintah, kapan? Dari puluhan tahun mungkin jalanan ini nggak pernah diperbaiki beneran," ujarnya.

    Akibatnya, air hujan nggak punya tempat pergi. Menggenang di jalan, bikin licin dan dalam. Motor yang nekat lewat sering kemasukan air di knalpot. Mesin mati di tengah kubangan sudah jadi pemandangan biasa.

    "Kalau panas, debunya yang parah. Kalau hujan, lumpurnya yang menggila. Nggak ada menangnya," katanya sambil ketawa kecil.

    Jalur Hidup yang Dibiarkan Mati

    Jalan ini nyambungin Pungguk Baru dan Papan Rejo. Lewat sini petani bawa hasil panen, anak sekolah berangkat belajar, guru honorer tiap pagi berangkat ngajar.

    Tapi sekarang, jalur hidup itu pelan-pelan mati. Sopir pick up aja harus ngeden sampai keluar asap hitam. Apalagi ibu-ibu bawa anak dan anak sekolah.

    "Warga udah nggak minta muluk-muluk. Cuma minta gorong-gorong dibenerin biar air ngalir. Jalan dipadatkan biar nggak jadi bubur. Masak iya sopir harus patungan terus?" ujarnya.

    Di ujung jalan, pick up itu masih berjuang. Asap hitam masih mengepul. Dan warga Pungguk Baru, masih bertanya: sampai kapan sopir harus bayar jalan mereka sendiri?
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini