BUKITTINGGI,Penakita.info –
Langit seolah turut menyambut kehadiran para insan yang berhimpun. Meski gerimis turun membasahi bumi dan suasana di luar terlihat tidak kondusif, hal itu sama sekali tidak meredupkan semangat warga Lingkung Baraya Sunda (Libas).
Justru, rintik hujan menjadi saksi bisu betapa luar biasanya ukhuwah yang terjalin. Di bawah naungan sekretariat yang hangat, keberkahan mengalir deras, seolah tempat ini bukan sekadar bangunan, melainkan sepotong surga yang menampung hati-hati yang rindu akan kebaikan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Libas, Kang Asep Susanto, membuka acara dengan penuh keramahan. Ia menyampaikan salam hangat dan ucapan selamat datang kepada seluruh tamu undangan serta anggota yang hadir.
“Meskipun hujan mengguyur, semangat silaturahmi kita luar biasa. Ini membuktikan bahwa hati kita tidak mengenal cuaca, yang ada hanyalah niat tulus untuk berkumpul dan berbagi,” ujar Asep dengan penuh semangat.
Pertemuan tersebut juga menjadi wadah evaluasi dan perencanaan bersama. Berbagai hal penting didiskusikan secara matang, mulai dari pengelolaan tabungan bersama, kelengkapan sarana dan prasarana, hingga teknis kepulangan bersama yang diharapkan semakin tertib dan harmonis.
Salawat: Jembatan Cinta dan Syafaat
Acara semakin khidmat saat giliran Dede Ridwan memimpin lantunan salawat Nabi. Namun, lebih dari sekadar bacaan, ia menyampaikan wejangan mendalam tentang makna dan keutamaan salawat.
“Salawat itu sangat istimewa. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan langsung kepada kita, salawat justru dimulai dari Allah SWT dan para Malaikat yang bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, baru kemudian kita diperintahkan untuk melakukannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 56. Ini adalah tanda cinta sekaligus kunci untuk mendapatkan syafaat beliau kelak,” paparnya.
Dede Ridwan menegaskan, berdasarkan Hadits Riwayat Muslim, satu kali kita bersalawat, Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan.
“Orang yang rutin bersalawat berpeluang besar melihat wajah Nabi Muhammad SAW dalam mimpi, dan beliau menjanjikan bahwa orang yang banyak bersalawat akan menjadi orang yang paling dekat dengannya serta akan diberi minum dari telaga Al-Kautsar di hari kiamat,” tambahnya.
Dijelaskan pula bahwa salawat memiliki kemuliaan tersendiri; hukumnya sah dan tetap dicatat meski dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu, asalkan niatnya lurus dan jauh dari sifat riya’ atau pamer.
Jangan Remehkan Kebaikan, Pahala Luar Biasa Menanti
Memperkuat paparan sebelumnya, Ustadz Asep Nurdin menegaskan bahwa syafaat dan rahmat Allah itu sangat luas. Ia mengingatkan agar tidak pernah meremehkan amal kebaikan, sekecil apa pun itu, baik kepada sesama manusia, hewan, maupun tumbuhan.
“Haji itu berat, kurban itu besar, tapi kebaikan itu ada di mana-mana. Menginfakkan harta, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bahkan menampakkan wajah yang cerah dan ramah kepada saudara, itu semua bernilai sedekah,” tegasnya.
Ustadz Asep memaparkan tingkatan pahala yang sangat menakjubkan sebagaimana dikemukakan oleh Imam Suyuti:
1. Sedekah kepada orang sehat dan mampu: Bernilai 10 kali lipat.
2. Sedekah orang sakit atau tertimpa musibah: Nilainya melesat hingga 90 kali lipat.
3. Sedekah kepada karib kerabat: Mencapai 900 kali lipat.
4. Sedekah dan berbakti kepada orang tua: Pahalanya luar biasa hingga 100 ribu kali lipat.
5. Sedekah kepada penuntut ilmu dan pengajar: Mencapai 900 ribu kali lipat.
Ia juga membedah tingkatan kedermawanan. Mulai dari level memberi saat diminta, hingga level tertinggi yaitu memberi tanpa diminta, disertai rasa hormat dan kerendahan hati. Ini adalah level Ihsan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.
“Sedekah itu obat terbaik. Ia dapat menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan menjaga lisan serta tangan agar tidak menyakiti orang lain, termasuk dalam bergaul dengan pasangan sendiri,” jelas Ustadz Asep Nurdin.
Ditegaskan pula bahwa Rahmat dan Syafaat adalah kunci utama pintu surga. Bahkan makhluk kecil pun mendapatkan rahmat Allah, apalagi hamba yang berusaha beramal saleh.
Doa Penuh Haru dan Semangat Kebersamaan
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Handi. Suasana semakin haru saat doa khusus dipanjatkan untuk kesembuhan Bapak Kang Iwan yang sedang dirawat, serta keselamatan dan keberkahan bagi seluruh keluarga besar Libas.
Dalam sesi terakhir, dilaporkan pula perkembangan pembangunan pondok yang terus berjalan berkat bantuan dan kepedulian. Kegiatan ditutup dengan arisan yang dipimpin oleh Kang Icang, yang tetap mempertahankan nominal dan suasana kekeluargaan yang hangat seperti sedia kala, membuktikan bahwa di sini, persaudaraan tidak pernah mengenal akhir.
(YamanLbs
