Bandanaira,Penakita.info-Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas III Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, menghadiri kegiatan seni dan budaya bertajuk "Ruang Berkisah: Aktivasi Ruang Bersejarah" yang digelar di Rumah Pengasingan Mohammad Hatta, Jumat (22/5) malam.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas dalam menghidupkan kembali nilai sejarah melalui pendekatan seni visual dan keterlibatan generasi muda. Sejumlah komunitas seperti Indonesian Sketchers, Urban Sketch Indonesia, Maluku Sketchwalk, Banda Sketchwalk, hingga pemuda lokal Banda turut ambil bagian dalam pameran dan aktivitas sketsa budaya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Samad Rumuar menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang dinilai mampu membangun kesadaran sejarah sekaligus menumbuhkan kreativitas generasi muda di Banda Neira.
"Pelestarian sejarah tidak hanya dilakukan melalui cerita dan dokumentasi, tetapi juga bisa melalui seni dan kreativitas anak muda. Kegiatan seperti ini sangat positif karena mampu menghidupkan kembali ruang-ruang bersejarah agar tetap dekat dengan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, Rumah Pengasingan Bung Hatta bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan simbol perjalanan bangsa yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga menilai keterlibatan komunitas seni dan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian sejarah dapat dilakukan secara kolaboratif dan inklusif.
Program "Ruang Berkisah: Aktivasi Ruang Bersejarah" menghadirkan pameran sketsa, diskusi budaya, hingga aktivasi ruang publik berbasis seni. Selama kegiatan berlangsung, para peserta merekam lanskap budaya, arsitektur kolonial, dan kehidupan masyarakat Banda Neira melalui karya sketsa dan cat air.
Inisiator kegiatan, Zairin Salampessy, mengatakan bahwa program tersebut bertujuan menjadikan ruang sejarah sebagai ruang hidup yang dapat diakses dan dimaknai kembali oleh generasi muda.
"Jika dahulu Bung Hatta merajut narasi kemerdekaan lewat tulisan, maka hari ini generasi muda merajut pelestarian sejarah melalui visual," kata Zairin, yang akrab dipanggil Embong.
Sementara itu, Camat Banda, Handayani Hassannusi, turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut karena memberikan ruang positif bagi anak muda Banda Neira untuk berkarya sekaligus mengenal sejarah daerahnya.
Kegiatan yang didukung melalui program Dana Indonesiana 2026 itu diharapkan mampu memperkuat kesadaran sejarah, menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat, serta memperkenalkan Banda Neira ke tingkat nasional hingga internasional melalui diplomasi budaya berbasis seni visual.
