Bangli,PenaKita.Info-Di depan Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli,sebuah keluarga menunggu dengan penuh harap. Wajah mereka menyiratkan rindu
yang lama terpendam, menanti momen yang telah dinanti sekian waktu. Darikejauhan, seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berjalan perlahan mendekat.
Langkahnya berat, namun penuh makna. Saat jarak terpangkas, pelukan hangat pun pecah melebur rindu, haru, dan harapan baru.
Perjalanan pulang dimulai. Di dalam mobil, WBP terdiam, menatap dunia dari balik kaca jendela. Perlahan, senyum tipis terukir. Ia membuka kaca mobil,
menghirup udara bebas dengan penuh syukur—sebuah kebebasan yang kini terasa begitu berharga.
Namun, kebebasan itu membawa ingatan kembali ke masa lalu. Kilas balik punhadir. Ia teringat saat pertama kali datang sebagai tahanan—tangan dan kaki
terborgol, langkahnya dikawal ketat menuju pintu lapas. Wajahnya kosong, namun
matanya menyimpan ketakutan dan penyesalan. Pintu besar tertutup perlahan di
belakangnya, menandai awal dari perjalanan panjang yang penuh ujian.
Dengan penuh keyakinan, suara hatinya menggema:Mungkin kami pernah melakukan kesalahan. Namun keinginan untuk berubah demikeluarga jauh lebih besar. Tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk menjadi
lebih baik. Di sinilah kami belajar meninggalkan masa lalu yang kelam, danmenyongsong masa depan yang lebih terang.
