• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Indra Utama Gagas Paradigma Pembangunan Bukittinggi Berbasis Kebudayaan

    Selasa, 04 Agustus 2026, Agustus 04, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T09:13:20Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    BUKITTINGGI, Penakita.info – 

    Pemerhati budaya sekaligus warga Bukittinggi, Indra Utama, mengemukakan gagasan mengenai pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai paradigma utama dalam pembangunan Kota Bukittinggi. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi harus memiliki arah yang berpijak pada identitas dan karakter daerah.


    Indra menilai setiap kota memiliki jalannya masing-masing menuju masa depan. Ada yang berkembang melalui sektor industri, perdagangan, jasa, maupun pariwisata. Namun, menurutnya, tidak semua mampu melahirkan kota yang berkarakter, bermartabat, dan berkelanjutan.


    "Sebuah kota akan menjadi benar-benar besar bukan semata karena gedung-gedungnya menjulang atau infrastrukturnya modern, tetapi karena kota itu memiliki jiwa yang memberi arah bagi seluruh proses pembangunannya," ujarnya.


    Ia menegaskan, pertanyaan mendasar bagi Bukittinggi bukanlah seberapa besar investasi yang masuk atau berapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun. Yang lebih penting adalah menentukan seperti apa kota yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.


    Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak hanya dapat ditemukan melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi, melainkan melalui kebudayaan. Kebudayaan dipandang sebagai sumber nilai yang membentuk cara masyarakat memahami kehidupan, mengelola alam, membangun hubungan sosial, menciptakan ilmu pengetahuan, mengembangkan ekonomi, hingga menentukan arah masa depan.


    Selama ini, lanjut Indra, kebudayaan masih sering dipahami sebagai salah satu sektor pembangunan yang sejajar dengan pendidikan, kesehatan, pariwisata, perdagangan, maupun infrastruktur. Akibatnya, kebudayaan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk festival, pertunjukan seni, pelestarian bangunan bersejarah, atau kegiatan seremonial lainnya.


    Padahal, menurutnya, kebudayaan seharusnya tidak ditempatkan sebagai sektor pembangunan, melainkan sebagai paradigma pembangunan yang menjadi kompas dalam setiap kebijakan pemerintah.
    "Dengan paradigma ini, setiap kebijakan pembangunan harus diawali dengan pertanyaan apakah kebijakan tersebut akan memperkuat jati diri Bukittinggi sebagai kota ilmu, kota intelektual, kota kebudayaan, dan kota yang berakar pada nilai-nilai Minangkabau," jelasnya.


    Indra menegaskan bahwa paradigma pembangunan berbasis kebudayaan bukan berarti menolak modernitas atau mengajak masyarakat kembali ke masa lalu. Sebaliknya, modernitas harus dipahami sebagai kemampuan mentransformasikan nilai-nilai budaya menjadi kekuatan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.


    Menurutnya, kota yang modern bukanlah kota yang menyerupai kota-kota lain, melainkan kota yang mampu mempertahankan keunikannya sambil terus berinovasi.


    Ia menilai Bukittinggi memiliki modal yang sangat kuat untuk mewujudkan konsep tersebut. Selain dikenal sebagai kota dengan tradisi pendidikan yang kuat, Bukittinggi juga melahirkan banyak tokoh bangsa, berkembang sebagai pusat perdagangan masyarakat Minangkabau, serta memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia.


    Keindahan alam, kekayaan budaya, tradisi intelektual, dan letak strategis kota, menurutnya, merupakan modal besar yang perlu disatukan dalam satu visi pembangunan sehingga setiap kebijakan saling mendukung dan memperkuat.


    Dalam gagasannya, Indra menawarkan lima prinsip utama Paradigma Pembangunan Kota Bukittinggi Berbasis Kebudayaan.


    Pertama, kebudayaan menjadi arah utama pembangunan sehingga seluruh kebijakan publik memperkuat identitas Bukittinggi sebagai Kota Intelektual dan Kota Kebudayaan Minangkabau.


    Kedua, manusia menjadi pusat pembangunan, sehingga keberhasilan kota diukur dari kualitas sumber daya manusianya, bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi.


    Ketiga, warisan sejarah dan kebudayaan dipandang sebagai sumber inovasi yang mampu melahirkan gagasan, karya kreatif, dan ekonomi masa depan.


    Keempat, modernitas dibangun melalui dialog dengan tradisi sehingga kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan jati diri masyarakat.


    Kelima, seluruh pembangunan dilaksanakan berdasarkan prinsip keberlanjutan agar warisan budaya, lingkungan hidup, dan kualitas kehidupan tetap terjaga bagi generasi mendatang.


    Melalui paradigma tersebut, Indra berharap Bukittinggi tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga mampu menegaskan posisinya sebagai pusat ilmu pengetahuan, intelektual, kebudayaan, kreativitas, dan peradaban Minangkabau di abad ke-21.


    "Itulah pembangunan yang tidak hanya menghasilkan kemajuan, tetapi juga melahirkan makna," tutupnya.


    (YLbs)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini