masukkan script iklan disini
Aceh Timur — penakita info / Beberapa warga terdampak bencana di Desa Lueng Sa, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, masih dihantui oleh satu pertanyaan besar: ke mana mereka harus pulang?
Pasalnya, hingga 3 April 2026, batas akhir masa tinggal di pengungsian sebelum.hari raya idul fitri, hingga saat ini belum satu pun Hunian Sementara (huntara) yang berdiri di desa tersebut. Waktu terus berjalan sementara warga yang kehilangan tempat tinggal semakin terdesak oleh keadaan.
Keuchik Desa Lueng Sa, Samsul Azhar, mengungkapkan bahwa pihak desa sudah berupaya mempercepat penanganan dengan mengirimkan data warga terdampak kepada pihak terkait, termasuk BNPB, sebagai dasar pembangunan huntara. Namun, hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa pembangunan akan dimulai.
“Data sudah kami kirim sejak lama. Warga sangat membutuhkan huntara, tetapi sampai hari ini belum ada pembangunan sama sekali di desa kami,” ujar Samsul Azhar dengan nada kecewa, Jumat (3/4/2026).
Tanpa hunian sementara, sebagian warga terpaksa bertahan dalam kondisi yang serba terbatas. Ada yang masih tinggal di lokasi pengungsian dengan fasilitas seadanya, ada pula yang menumpang di rumah keluarga. Bahkan, tidak sedikit yang berteduh di bangunan darurat yang jauh dari kata layak untuk ditempati.
Situasi ini semakin memilukan karena terjadi di penghujung Ramadhan, ketika banyak keluarga lain mulai mempersiapkan rumah dan hidangan untuk merayakan Lebaran bersama orang tercinta. Sementara bagi korban bencana di Desa Lueng Sa, rumah yang mereka rindukan masih sebatas harapan yang belum terwujud.
Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan untuk merealisasikan pembangunan huntara yang sangat dibutuhkan. Bagi mereka, hunian sementara bukan sekadar bangunan darurat, tetapi tempat untuk memulihkan harapan setelah musibah merenggut tempat tinggal mereka.
Kini, di tengah sunyi malam yang seharusnya membawa ketenangan, banyak warga Desa Lueng Sa masih terjaga dengan kegelisahan yang sama—menunggu sebuah kepastian tentang tempat yang bisa mereka sebut rumah, meski hanya sementara.
(*** Muhammad Rizwan

