Wahai,PenaKita.Info-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, kembali tunjukkan komitmen pelayanan publik berbasis Hak Asasi Manusia sekaligus jaga stabilitas keamanan. Selasa (24/2), petugas laksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) pada fasilitas Warung Telekomunikasi Khusus (Wartelsus) guna pastikan penggunaan alat komunikasi oleh Warga Binaan tetap aman, tertib, dan steril dari penyalahgunaan sehingga mereka tetap dapat lepas rindu dengan keluarga selama bulan suci Ramadan.
Dalam sidak tersebut, petugas berfokus pada pemeriksaan seluruh perangkat telepon serta area sekitar Wartelsus. Pengecekan dilakukan secara mendetail terhadap riwayat panggilan, aplikasi, serta memastikan tidak ada handphone ilegal yang disembunyikan di area tersebut.
“Seluruh fasilitas Wartelsus dalam kondisi baik dan beroperasi sesuai Standar Operasional Prosedur. Kami tidak menemukan perangkat ilegal maupun indikasi penyalahgunaan jaringan komunikasi,” ujar Jordi Laisina selaku Kepala Regu Pengamanan Pagi.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa sidak ini merupakan langkah preventif untuk mendukung program zero handphone, pungutan liar, dan narkoba (Halinar) di lingkungan Lapas.
“Wartelsus menjadi jembatan emosional antara Warga Binaan dan keluarga, terutama bagi mereka yang keluarganya berada jauh. Kami pastikan hak komunikasi Warga Binaan terpenuhi dengan baik, sehingga mereka dapat melepas rindu dan menjalankan ibadah puasa dengan hati yang tenang. Sidak rutin ini krusial untuk memutus potensi gangguan keamanan dari dalam Lapas,” tegas Tersih.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, turut mengapresiasi langkah sigap Lapas Wahai dalam menjaga sterilitas layanan komunikasi. Menurutnya, pemeliharaan sarana komunikasi di dalam Lapas merupakan wujud nyata pelayanan publik berbasis Hak Asasi Manusia.
“Kami sangat mendukung langkah positif yang dilakukan Lapas Wahai. Pada bulan Ramadan, aspek psikologis Warga Binaan harus tetap terjaga. Fasilitas Wartelsus yang prima bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga instrumen mitigasi risiko gangguan keamanan karena mampu meredam tingkat stres narapidana yang merindukan keluarga,” ujarnya.
Optimalisasi layanan Wartelsus ini diharapkan mampu menjaga stabilitas psikologis Warga Binaan sekaligus menunjukkan konsistensi Lapas Wahai dalam menghadirkan pelayanan prima, di mana keamanan tetap terjaga dan hak komunikasi terpenuhi dengan baik.
